The Extreme Density Unit (EDU)

Budidaya Lobster Air Tawar (LAT) pada umumnya memerlukan lahan yang cukup luas untuk dapat memberikan hasil yang memadai bagi petani, selain itu tingkat kanibalisme yang tinggi dalam budidaya LAT ini juga menyebabkan berkurangnya jumlah yang hasil saat panen. Pada umumnya tingkat kepadatan dalam budidaya LAT umumnya adalah sampai 20 ekor/m2 untuk ukuran 60gram ke atas dan bila membuat tempat persembunyian (shelter) yang sedemikian rupa kepadatan dapat ditingkatkan lebih dari 20 ekor/m2.

Extreme Density Unit atau disingkat EDU, merupakan tekhnik budidaya yang kepadatannya dihitung dalam luas tiga dimensi atau biasanya disebut meter kubik. Bila dirancang dalam sedemikian rupa maka tingkat kepadatan dapat ditingkatkan hingga 100 ekor/m3.

Dengan system EDU ini lobster yang dihasilkan juga lebih bersih dibandingkan dengan lobster yang dibesarkan dikolam terutama kolam tanah. Lobster yang berasal dari kolam tanah umumnya warnanya coklat dan kotor, sehingga perlu dilakukan karantina terlebih dahulu untuk dapat dijual ke pasar. Air yang kotor ini biasanya bermanfaat untuk mengurangi tingkat kanibalisme karena lobster tidak saling ketemu.

Keuntungan dari EDU ini adalah :

1. Tingkat kanibalisme yang dapat ditekan hingga 0.
2. Pembagian pakan yang lebih merata sehingga diharapkan pembesaran juga merata.
3. Hasil produksi lebih bersih karena mengunakan air yang bersih.
4. Mengurangi waktu panen.
5. Terhindar dari pemangsaan binatang lain seperti ular dan lain sebagainya.
6. Tidak memerlukan lahan yang luas.

Selain keuntungan yang dijabarkan di atas, EDU juga mempunyai kelemahan seperti :

1. Pemberian pakan yang sulit bila tidak mengunakan system pemberian pakan otomatis.
2. Biaya yang tinggi dalam pengadaan media budidaya.
3. Tingkat pertumbuhan yang lebih lambat hingga 20% menurut penelitian dari Yani Murdani di Bandung.

Sistem EDU ini sudah banyak dilakukan modifikasi ada yang mengunakan botol dan ada juga yang mengunakan talang hujan.

EDU Botol

EDU botol merupakan teknik budidaya LAT mengunakan botol-botolan sebagai media. Lobster yang akan dibesarkan dalam botol ini biasanya dimulai dari burayak berukuran 5cm atau sekitar 4-5gr perekor hingga ukuran konsumsi atau sekitar 50-120gr perekornya.

Botol-botol yang telah berisi lobster ini kemudian dipasang pada kayu sehingga dapat dipasang secara vertical dan kemudian dimasukan ke dalam kolam atau bak fiber atau sejenisnya. Botol yang akan digunakan sebagai media itu diberi lobang pada semua sisi botolnya sehingga terjadi pengantian air yang memadai dalam kolam tersebut. Namun lobang yang akan dibuat ini sebaiknya dapat menampung pakan yang diberikan dalam botol tersebut.

Kebutuhan oksigen dalam air (dissolved oxygen) dipenuhi melalui sirkulasi air melalui filter disampingnya yang dipompakan ke dalam kolam sehingga air yang ada di dalam kolam bisa senantiasa bersih. Sistem penyaringan air ini mengunakan system overflow.

Pemberian pakan merupakan salah satu masalah terbesar dalam budidaya LAT dengan sistem EDU botol. Ada teknik pemberian pakan secara otomatis yang dirancang sedemikian rupa oleh Australian Blue Yabby Aquaculture namun alat ini sangat mahal.

Teknik pemberian pakan lain yang dikembangkan oleh Yani Murdani yang dipaparkan dalam Lomba Karya Ilmiah TPTG 2005, mengunakan selang yang disambungkan ke dalam tiap botol sehingga pemberian pakan menjadi lebih mudah.

EDU Talang

EDU talang merupakan hasil kembangan dari anak bangsa kita, cuman sampai saat ini penulis belum menemukan pencetus ide ini.

Pemberian pakan akan lebih mudah dengan mengunakan EDU talang, karena bagian atasnya terbuka. Talang yang biasanya dipakai untuk talang hujan dimodifikasi dengan membuat sekatan dengan panjang masing-masing sekitar 20cm, sehingga dengan talang sepanjang 4m dapat menampung 20 LAT.

Sama halnya dengan EDU Botol, LAT yang akan dipelihara dalam talang ini berukuran 5cm atau sekitar 3-4 gr.

Umumnya EDU Talang ini dibuat dalam beberapa tingkat dengan air yang ada pada talang tertinggi akan diturunkan ke talang dibawahnya dan seterusnya hingga talang paling bawah dan dikeluarkan ke tempat filter. Kemudian dari filter ini air dipompakan kembali ke talang paling atas. Untuk air yang turun dari talang yang atas ke bawah sebaiknya dibuat berlawanan. Artinya air yang turun dari bagian kanan kemudian dikeluarkan di bagian kiri sehingga terjadi arus air dalam talang tersebut.

Dengan melakukan sirkulasi air seperti ini maka oksigen yang diperlukan oleh LAT menjadi terpenuhi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: